rss
twitter
    temukan yang anda cari disini :)

Kamis, 11 November 2010

HERO OR ZERO “Mbah Maridjan Dibalik Amukan Merapi”



Nama : Raden Ngabehi Surakso Hargo (mbah marijan
TTL : Dukuh Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 5 Februari 1927
Alamat : Dukuh Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta
Jabatan : Juru kunci merapi sekaligus abdi dalem keraton yogyakarta

Mbah Marijan yang dikenal sebagai juru kunci gunung merapi ahirnya wafat tanggal 26 oktober 2010 karena terkena awan panas atau wedus gembel yang dikeluarkan oleh merapi, hal ini menjadikan pro kontra masyarakat tentang kematian mbah maridjan, pria tua yang dilahirkan 5 Februari 1927 meninggal karena melaksanakan tugas yang diberikan oleh Sultan Hamengkubuono IX yang menjabat sebagai sultan sekaligus gubernur yogjakarta untuk menjaga gunung merapi.
Hal ini menimbulkan beberapa pendapat salah satunya menganggap bahwa mbah maridjan memiliki dedikasi tinggi atas tanggung jawab yang telah diberikan oleh sang sultan kepada dirinya sebagai abdi dalem kesultanan, beliau dianggap sebagai hero yang memiliki keberanian tinggi, tekat baja dan tanggungjawab tinggi yang bahkan rela mengorbankan nyawanya demi tugas yang telah diberikan kepadanya, masyarakat menilai sikap mbah maridjan yang mulia itu pantas untuk dicontoh dan diteladani, banyak orang yang tidak mengetahui bahwa gaji mbah maridjan dari kesultanan sebagai juru kunci merapi hanya 80.000/bulan Tetapi hal berubah di tahun 2006 saat mbah maridjan berhasil membuktikan bahwa merapi tidak akan meletus, akhirnya mbah maridjan dijadikan sebagai icon kukubima energi dring, setelah mbah maridjan menjadi icon kukubima bersama kris jhon beliau mendapatkan gaji tinggi dan dapat menunaikan ibadah haji serta membangun masjid di dekat rumahnya.
Akan tetapi banyak pula yang menganggap bahwa kematian mbah maridjan itu bernilai zero atau tidak ada artinya hal ini disebabkan mereka berpendapat bahwa mbah maridjan sudah tau gunung merapi akan meletus dan beliau berada di zona tidak aman dan tidak mau turun malah terus saja bersikukuh akan menjaga merapi sampai ahir hayatnya. sebenarnya Sultan Hamengkubuono X telah mengimkan surat keterangan kepada mbah maridjan untuk turun akan tetapi SK itu atas nama gubernur bukan sultan yogyakarta.
Dengan dua pendapat berbeda diatas kita tetap harus menghormati dedikasi mbah maridjan karena telah menjaga dan rela mengorbankan nyawanya demi tugas

.Copyraight©bagus luqman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar